5 Kebiasaan Unik yang Dijalankan Suku Anak Dalam di Jambi

Suku Anak Dalam merupakan suku yang terletak di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan.

Mereka tinggal di bentangan daerah Lubuk Linggau yang notabene termasuk dalam area hutan Jambi.

Layaknya suku pada umumnya, suku ini memiliki kebiasaan atau kultur yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Setiap kebiasaannya memiliki pengertian dan tujuannya tersendiri yang menurut mereka dianggap sakral.

Bahkan dalam praktiknya sering dianggap sebagai penghormatan kepada leluhur mereka.

Selain itu, mereka mempercayai adanya dewa yang diketahui akan membantu mereka untuk menyelesaikan setiap masalah dialami.

Biasanya caranya dilakukan dengan berdoa.

Adapun beberapa kebiasaan lain, berikut telah dirangkum lima kebiasaan yang menarik untuk diketahui.

Antara lain sebagai berikut: Kultur pertama yang dipertahankan dari suku ini adalah sistem pengangkatan kepala sukunya.

Seperti disebutkan dalam jurnal berjudul Cultural Alaccutartion Communcation Patterns In The Suku Anak Dalam Who Came Out of Their Community (2021), mereka menganut asas demokrasi yang sangat disiplin dan tersistematis.

Misalnya menguji terlebih dahulu dahulu agar dapat masuk sebagai calon yang cocok untuk mengatur Suku Anak Dalam.

Pengujian tersebut di antaranya meliputi kekuatan batin atau ilmu kanuragan.

Hal yang lebih menarik ialah beradu panco antar calon kepala adat tersebut.

Sebab mereka mempercayai bahwa pemimpin perlu lebih kuat dibandingkan rakyatnya sendiri.

Nantinya pemimpin tersebut dinamakan Tamenggung.

Melansir rimbakita.com.

budaya ini ditujukan bagi kebiasaan Suku Anak Dalam yang sering berpindah-pindah tempat dalam berkehidupan atau nomaden.

Dahulu budaya melangun akan dilakukan rutin selama tiga tahun sekali, setelahya akan kembali ke tempat asalnya.

Momen yang tepat untuk melaksanakan budaya ini ialah ketika ada salah satu keluarga ada yang meninggal.

Namun saat ini budaya melangun diketahui hanya dilakukan tiga bulan saja demi menghilangkan rasa kesedihan terhadap mendiang yang sudah meninggal.

Suku Anak Dalam juga dipengaruhi oleh berbagai aturan yang dilakukan dari zaman dahulu.

Lalu masyarakat suku menerapkannya dalam bentuk seloko-seloko yang secara tegas dijadikan pedoman hukum oleh para seorang Tumenggung.

Perlu diketahui, seloko merupakan tata cara berbahasa dan berperilaku dalam suku ini.

Dilansir dari indonesia.go.id.

besale merupakan ritual dalam menyembuhkan seseorang.

Menurut kepercayaan suku ini, penyakit akan datang karena ulah manusia itu sendiri.

Alhasil para dewa akan marah melihatnya.

Selain itu, besale juga dapat dilakukan sebagai pemanggilan dewa dengan tujuan untuk mengesahkan pernikahan dan pertolongan lainnya.

Cara pemanggilan dewa langsung dipimpin oleh Temanggung atau seorang dukun setempat.

Nantinya balai berukuran besar yang dapat memuat banyak orang akan dijadikan tempat praktik ritual tersebut.

Menariknya, balai ini dibuat sehari sebelum dilaksanakan ritual besale.

Kebiasaan lainnya yang dilakukan suku ini adalah berkumpul di rumah bernama rumah godong.

Berdasarkan jurnal berjudul Budaya Lokal dan Pendidikan Islam: Studi Kasus Suku Anak Dalam (2018), rumah godong digunakan sebagai tempat untuk melakukan musyawarah mufakat demi menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi pada suku mereka.

FATHUR RACHMAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Pariwisata Menggeliat Lagi, Investor Mulai Investasi Ratusan Miliar Rupiah ke Bisnis Properti
Next post Wisata Edukasi, Apa Bedanya dengan Perjalanan Pariwisata Lainnya?